Program Internet Desa Belum Merata
INTERNET: Program internet masuk desa dan wifi gratis di Banyuasin hingga kini belum berjalan optimal. Foto: Ils/copilot--
REL, Pangkalan Balai - Program kampanye Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Banyuasin berupa internet masuk desa dan wifi gratis hingga kini belum berjalan optimal.
Sejumlah kepala desa mengaku masyarakat di wilayah mereka belum merasakan manfaat program tersebut secara merata.
Kepala Desa Sukadamai, Kecamatan Tanjung Lago, Lamiran, menyebut hingga saat ini fasilitas wifi gratis belum tersedia di desanya.
“Belum ada di desa kami,” ujarnya. Ia berharap program tersebut segera terealisasi karena dinilai sangat penting dalam mendukung aktivitas masyarakat, terutama di era digital saat ini.
Hal serupa diungkapkan oleh seorang kepala desa di wilayah perairan yang menyebut akses internet memang sudah ada, namun masih berbayar.
“Kalau gratis belum ada,” katanya singkat. Kondisi ini menunjukkan bahwa janji penyediaan internet gratis masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo Banyuasin, Ida Bahagia, melalui Kepala Bidang Aplikasi dan Teknologi Informatika, Gusti, menjelaskan bahwa program wifi gratis sebenarnya sudah berjalan. “Baik itu di desa, sekolah dan puskesmas,” ujarnya.
BACA JUGA:Warga Lahat Wajib Dilayani Meski BPJS Nonaktif
BACA JUGA:Bupati Empat Lawang Hadiri Musrenbang RKPD Sumsel 2027
Namun demikian, ia mengakui cakupan layanan tersebut masih sangat terbatas. Dari total 288 desa di Banyuasin, baru sekitar 10 persen wilayah yang terjangkau layanan wifi gratis.
“Lebih kurang 10 persen, karena meng-cover daerah yang sinyalnya lebih baik,” jelasnya.
Menurutnya, sejumlah bantuan infrastruktur seperti wifi area dari gubernur serta dukungan internet untuk puskesmas dan sekolah dari Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui program Bakti sudah tersedia. Meski begitu, tantangan utama tetap pada keterbatasan sinyal di beberapa wilayah.
Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya mulai mengembangkan BTS swadaya di beberapa desa sebagai solusi alternatif memperluas jaringan.
Di sisi lain, kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
