Masjid Agung Demak: Warisan Wali Songo yang Menjadi Magnet Wisata Religi di Era Modern

--

“Peran Syekh Maulana Maghribi sangat besar dalam menyebarkan Islam di kawasan Demak, namun sayangnya belum banyak yang mengangkat kisahnya secara luas,” jelas Takmir Masjid, KH Nur Fauzi.

BACA JUGA:Harga Rp 3 Jutaan, Galaxy A26 5G Bawa Fitur Flagship! Desain Premium, Kamera OIS, dan Tahan Air!

Keistimewaan Arsitektur dan Warisan Wali Songo

Masjid Agung Demak juga terkenal dengan empat saka guru (tiang utama) yang menjadi elemen arsitektur ikonik.

Tiang-tiang ini dibuat langsung oleh empat Wali Songo, yakni Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, dan Sunan Bonang.

Keempat saka guru tersebut tidak hanya memiliki nilai struktural, tetapi juga simbolis dalam kekuatan dakwah dan persatuan umat.

Bagian serambi masjid masih mempertahankan gaya arsitektur Majapahit, yang mencerminkan percampuran budaya Hindu-Buddha dengan Islam secara harmonis, sebuah bukti inklusivitas Islam Nusantara sejak masa awal penyebarannya.

BACA JUGA:Xiaomi Redmi Pad SE 8.7 Meluncur di Indonesia, Tablet Ringkas Harga Bersahabat: Layak Dibeli?

Revitalisasi, Digitalisasi, dan Edukasi Sejarah

Untuk menjaga kelestarian, revitalisasi Masjid Agung Demak dilakukan secara bertahap. Salah satu upaya penting adalah pelestarian atap sirap berbahan kayu jati Randu Blatung, yang telah dimulai sejak tahun 1984.

Takmir masjid juga tengah mendorong transformasi edukatif melalui digitalisasi. Rencana ke depan mencakup pembangunan museum dan perpustakaan digital, yang akan menjadi sarana edukasi sejarah Islam interaktif bagi generasi muda.

“Digitalisasi ini kami anggap penting agar sejarah Wali Songo dan Kesultanan Demak dapat dipahami anak-anak muda dengan cara yang lebih menarik dan sesuai perkembangan zaman,” terang KH Fauzi.

Transparansi dan Penguatan Manajemen Masjid

Dalam pengelolaan keuangan, manajemen Masjid Agung Demak menekankan transparansi. Operasional bulanan masjid mencapai sekitar Rp400 juta, yang sebagian besar dipenuhi dari kotak amal jamaah serta dukungan Badan Kesejahteraan Masjid (BKM).

“Kami tidak hanya menjaga bangunan fisik, tapi juga warisan peradaban Islam. Dengan manajemen yang sehat, teknologi informasi yang kuat, dan literasi sejarah yang diperkuat, kami ingin memastikan anak muda bisa memahami dan meneruskan warisan ini dengan benar,” pungkas KH Fauzi.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan