Nilai Matematika Siswa Jeblok di TKA 2025, Mendikdasmen Akui Belum Bisa Pastikan Penyebabnya
Nilai Matematika Siswa Jeblok di TKA 2025, Mendikdasmen Akui Belum Bisa Pastikan Penyebabnya-ist/net-
Rel, Bacakoran.co – Nilai matematika siswa SMA sederajat pada Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 kembali menjadi sorotan nasional.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengaku belum dapat menyimpulkan penyebab utama anjloknya nilai tersebut. Ia menegaskan bahwa berbagai faktor harus dievaluasi sebelum menunjuk siapa atau apa yang salah.
Mu'ti menolak asumsi awal yang menyebut bahwa buruknya nilai matematika disebabkan oleh guru yang salah mengajar. Menurutnya, anggapan tersebut hanyalah salah satu kemungkinan dan tidak dapat dijadikan kesimpulan mutlak.
BACA JUGA:7 Jurusan Kuliah yang Paling Cepat Dapat Kerja, Prospek Cerah dan Gaji Menggiurkan
BACA JUGA:6 Jurusan Hukum Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2025, Lulusannya Jadi Incaran Perusahaan
"Kan ada kata-kata 'mungkin'. Mungkin itu bisa benar, bisa tidak. Ya mudah-mudahan tidak benar," ujar Mu'ti, Kamis (27/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa penyebab rendahnya nilai matematika bisa berasal dari banyak hal, termasuk kualitas buku pelajaran yang digunakan siswa di sekolah. Karena itu, ia meminta seluruh pihak melakukan evaluasi menyeluruh atas pelaksanaan TKA 2025.
"Saya bilang mungkin karena bukunya, mungkin karena salah ajarnya, silakan kita semua melakukan evaluasi," tambahnya.
Mu'ti juga menegaskan bahwa pemerintah belum bisa menarik kesimpulan final mengenai penyebab anjloknya nilai matematika nasional.
JPPI: Ini Bukan Salah Guru, Tapi Kegagalan Sistem
Di sisi lain, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) memberikan tanggapan tegas. Mereka menyayangkan adanya narasi yang mengarah pada kesalahan guru sebagai penyebab utama nilai matematika yang merosot.
Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menilai pemerintah seperti melempar tanggung jawab apabila langsung menyalahkan guru. Menurutnya, jika nilai buruk hanya terjadi di satu atau dua sekolah, barulah guru bisa menjadi faktor utama. Namun pada kasus ini, penurunan terjadi secara nasional dan masif.
“Ketika nilai matematika ambruk secara nasional, bermasalah bukan di ruang kelas, melainkan di ruang perumusan kebijakan. Ini adalah bukti kegagalan sistem, bukan kegagalan guru,” tegas Ubaid.
Ia menambahkan bahwa penilaian buruk siswa dalam matematika bukanlah hal baru, melainkan tren berulang dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa masalah yang terjadi bersifat struktural, bukan personal.