6. Keterbatasan ruang untuk mengekspresikan diri
Anak-anak mungkin merasa bahwa mereka tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan diri mereka sendiri karena citra yang telah dibentuk oleh orangtua melalui sharenting.
Anak mungkin merasa terikat oleh citra yang diciptakan oleh orangtua di media sosial, yang bisa menghalangi mereka untuk mengeksplorasi identitas mereka sendiri.
7. Kesadaran dini tentang media sosial
Anak-anak yang tumbuh dengan mengetahui adanya media sosial sejak usia dini mungkin menjadi terlalu memperhatikan penampilan dan citra diri secara online.
Anak mungkin menjadi terlalu bergantung pada validasi sosial dari like, komentar, dan share.
Akibatnya, hal ini bisa memengaruhi perkembangan psikologi dan cara menilai harga diri mereka.
Dengan mempertimbangkan dampak-dampak ini, penting bagi orangtua untuk lebih berhati-hati dalam melakukan sharenting dan mempertimbangkan kepentingan serta perasaan anak-anak mereka baik saat ini maupun di masa depan.
Kesimpulan
Istilah sharenting adalah gabungan dari kata “share” dan “parenting” yang merujuk pada kebiasaan orangtua membagikan hal-hal tentang anak, seperti informasi pribadi, foto, atau video secara online.
Hal ini kerap dilakukan oleh orangtua dengan berbagai tujuan, mulai dari membagikan kebahagiaan hingga untuk mendapat keuntungan secara ekonomi.
Meski umum dilakukan, penting bagi orangtua untuk memahami batinteasan aman dalam membagikan informasi tentang anak secara online.
Dengan memahami batasan tersebut, anak-anak bisa terhindar dari dampak buruk yang mungkin terjadi akibat sharenting berlebihan yang dilakukan oleh orangtua.